All About School - Part 1

Beberapa waktu lalu, aku membagikan tulisan tanganku yang kutulis dengan gaya tulisan tegak bersambung. Bukan hal yang spesial sebenarnya, tetapi cerita di balik mengapa aku menulis dengan gaya tegak bersambung merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupanku. Sebab, kebiasaan menulis tegak bersambung telah dibangun sejak aku duduk di bangku kelas III Sekolah Dasar.

Dulu aku disekolahkan di sekolah swasta islami yang dinilai ibuku memiliki program pendidikan yang baik di masanya. Namun sekolah ini tidak seperti sekolah pada umumnya. Terlepas dari labelnya yang merupakan sekolah milik yayasan pendidikan agama Islam, sekolah ini bahkan agak lain dari sekolah Islam lainnya, terutama dari segi kebijakan pengelolaannya. Dan sekarang aku ingin mengenang masa-masa itu dengan membagikan kebijakan-kebijakan unik yang kualami selama masa sekolah dasar.

Tidak ingin berpanjang-panjang menulis dan menyimpan kenangan lain untuk kegiatan menulis berikutnya, untuk kali ini aku akan membagikan kebijakan libur sekolah.

Sekolah dasar tempatku menimba ilmu terkenal dengan kebijakan uniknya tentang hari libur. Di masa itu, sekolah masih masuk selama enam hari dan libur satu hari dalam seminggu, tak terkecuali sekolahku. Namun apabila sekolah lain libur di hari Minggu, sekolahku justru menempatkan libur di hari Jumat.

Betapa menjemukannya jika teman-teman sepermainan di lingkunganku masih harus masuk sekolah, sedangkan aku tak memiliki kegiatan di hari Jumat. Sementara itu, di hari Minggu, ketika anak-anak lain menikmati hari libur bersama keluarga mereka, menghabiskan waktu di pasar Minggu, aku justru harus ke sekolah.

Apa yang terjadi dengan hari Jumat dan Minggu itu?

Sekolahku terletak di kawasan masjid milik yayasan yang cukup besar dan pasti ramai untuk melaksanakan salat Jumat. Dari yang aku tahu saat itu, pihak sekolah menganggap kami, siswa-siswi yang masih kecil dan sulit diatur ini, akan mengganggu jalannya ibadah jika sekolah masuk di hari Jumat. Oleh sebab itulah, sekolah diliburkan di hari Jumat, dan masuk di hari Minggu.

Namun pada hari Minggu pun, kami tidak mengikuti pelajaran sebagaimana biasanya. Sebagai ganti hari Jumat itu, sekolah menjadwalkan kegiatan ekstrakurikuler di hari Minggu. Dan hal terbaik dari masuk di hari Minggu adalah, kami tidak perlu memakai seragam dan diperkenankan mengenakan pakaian bebas-muslim. Memakai seragam sudah sangat membosankan, dan mengenakan pakaian bebas terdengar menyegarkan saat itu.

Sekolah menyediakan berbagai macam ekstrakurikuler untuk kelas I-V, lengkap dengan guru panggilan dari luar. Bahkan sekolah menyarankan kami untuk mengikuti dua ekstrakurikuler untuk mengisi waktu dan mengembangkan minat dan bakat kami. Namun agaknya tidak ada konsekuensi apabila kami tidak mengikuti ekstrakurikuler sehingga mendapatkan libur ekstra di hari Minggu — seperti orang kerja zaman sekarang yang hanya masuk lima hari dan libur dua hari.

Ceritaku tentang ekstrakurikuler saat SD sudah pernah kutulis di sini: Ekskul - SD

Dari aku mulai sekolah hingga lulus sekolah dasar, sekolahku tetap menerapkan libur hari Jumat. Namun aku tak tahu, apakah sekarang sekolahku masih menerapkan kebijakan yang sama. Jika dipikir-pikir, sudah belasan tahun sejak aku lulus dari sekolah dasar, mungkin kebijakan itu telah berubah.

Namun masih ada kebijakan-kebijakan unik lain yang menunggu diceritakan. Sampai jumpa!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saat itu Adalah Hari yang Sulit

Narasi Cinta untuk Menulis