Kereta Api #1

Bismillahirrahmanirrahim~

Nulis blog pun malah jadi setahun sekali yekan..
Pernah kepikiran buat ngehapus entri terakhir, tapi ya biarkan sajalah.

Mumpung masih liburan, mumpung masih ada stok gabut, mumpung lagi pengen nulis - entah ada yang baca atau enggak hehehe.
Kali ini mau cerita aja tentang kereta api. Kenapa? Hmmm.., karena kuliah ke tanah Jogja membuatku dekat dengan transportasi umum yang satu ini.

Rumahku dekat dengan stasuin kereta api. Sebuah stasiun yang melayani kereta api ekonomi lintas selatan dan kereta api lokal, yep Stasiun Purwosari. Dulu biasanya naik kereta jarak jauh hanya ketika ke Kediri saja, naik kereta ekonomi AC, sebutlah KA Kahuripan.

Saat itu, tahun 2016. Ibuk mengajakku ke Kediri naik KA Kahuripan. Saat itu, jadwal keretanya masih sekitar pukul setengah enam pagi jadi enggak perlu buru-buru berangkat sebelum subuh seperti saat ini. Dalam menunggu kereta, Ibuk selalu memastikan untuk berangkat darir umah 30-60 menit lebih awal, supaya tidak ketinggalan kereta, dengan mempertimbangkan macet di jalan yang mungkin terjadi. Padahal kalau mau ke stasiun, biasanya pun lewat kampung-kampung dan kemungkinan macetnya pun kecil.

Saat itu, sembari menunggu kereta, Ibuk menawarkan sarapan yang memang sudah disiapkan. Namun fokusku kala itu adalah ketika petugas stasiun mengumumkan keberangkatan KA Kalijaga jurusan Semarang Tawang, berakhir di Semarang Poncol. Aku ingat betul suasana saat itu, saat di mana KA Kalijaga masih berhenti di Stasiun Purwosari. Aku ingat saat petugas stasiun memberikan tanda lampu berwarna hijau, kemudian kondektur meniup peluit untuk selanjutnya dijawab dengan suara khas peluit lokomotif kereta api yang melengking itu.

Entah mengapa, saat itu terasa sedih.
Dan sejak saat itulah aku jatuh hati pada stasiun, kereta, dan suara peluit kondektur dan peluit lokomotif yang bersahutan.

Pengalamanku naik kereta api belum cukup banyak, hanya naik yang itu-itu saja. Ya, mau bagaimana lagi kan? Hanya KA Prameks yang menjadi favorit untuk perjalanan Solo-Jogja karena harganya yang murah meriah, Rp8.000,00 saja. Pernah sekali terpaksa naik KA Solo Ekspres karena tiket KA Prameks habis. Saat itu Rp30.000,00 pun kulepas demi bisa pulang. Interior KA Solo Ekspres memang beda jauh dibandingkan KA Prameks. Meski tetap seat 2-2 berhadapan, KA Solo Eskpres yang biasa disingkat Solpres atau Soleks ini terkesan lebih mewah dan mirip gerbong kelas eksekutif lah. Pantas saja harga tiketnya hampir 4x lipat tiket KA Prameks.

Saat terpaksa naik KA Solo Ekspres ini, kebetulan aku sudah kehabisan tempat duduk jadinya harus rela berdiri. Namun saat itu aku naik dari Stasiun Lempuyangan - biasanya dari Satsiun Tugu sih, tapi karena bareng teman makanya naik dari stasiun kedua - dan masih ada seat yang kosong. Aku pun duduk di seat yang kosong itu. Nyaman banget, beda sama KA Prameks pokoknya. Etapi, sampai di Stasiun Maguwo, empunya seat sudah tiba. Beruntung banget temanku yang bisa duduk di seat kosong yang tidak ditemukan empunya. Hhhh.

Tentang KA Prameks, karena sudah berkali-kali naik, sampai hafal ada tipe apa saja. Ada si lokomotif merah atau biasanya disebut angry bird. Kalau lihat yang datang adalah lokomotif ini, bisalah aku bernapas lega karena seat nya 2-2 berhadapan, bisa duduk nyaman.

Ada lagi si lokomotif kuning yang kalau tahu jika lokomotif ini yang datang, bisa membuat calon penumpangnya mendengus. Ya, gimana ya. Karena gerbong yang dibawa lokomotif ini memiliki seat memanjang di sisi gerbong, tidak empuk pula. Tapi lumayan sih buat yang enggak kebagian kursi, karena lantai gerbong terkesan lebih luas. Oiya, rangkaian gerbong yang dibawa lokomotif ini menyediakan gerbong khusus wanita, biasanya di gerbong lima atau terakhir. Namun pada kenyataannya, saat itu kebetulan aku naik ke gerbong lima, masih aja ada laki-laki di gerbong itu. Meski sudah diingatkan petugas kereta api, tetap saja tidak mau geser ke gerbong depan. Saking penuhnya.

Selain si kuning, ada lagi yang orange. Lupa sih, lokomotifnya warna apa. Apa orange juga ya? Gerbong yang dibawa lokomotif ini memiliki interior yang berbeda lagi. Seat-nya masih 2-2 berhadapan, hanya saja enggak seperti yang di lokomotif merah. Hmmm, gimana ya jelasinnya. Nyaman sih nyaman, hehehe.

Terakhir yang aku tahu, ada lagi satu lokomotif yang gerbongnya ini beda. Gerbongnya ada seperti gambar mural batik gitu lho. Kalau yang ini, aku belum pernah naik. Tapi sepertinya sama saja. Kalau habis lihat dari instagram, kayanya lokomotifnya warna putih. Belum pernah lihat lokomotifnya juga, karena seringnya lihat pas kereta ini berhenti di Stasiun Klaten.

KA Prameks melayani perjalanan Solobalapan - Jogja - Kutoarjo. Tapi untuk ke Kutoarjo atau dari Kutoarjo hanya di jam-jam tertentu. Untuk harga tiket Solo-Kutoarjo sendiri pun beda, Rp15.000,00 karena jaraknya juga lebih jauh hehe. Tapi belum pernah coba sih kalau ke Kutoarjo naik KA Prameks.

Karena sepertinya udah banyak, dan kalau dilanjutkan juga semakin banyak. Kusudahi saja dulu tentang kereta api kali ini.
Sampai jumpa lagi.

//maaf berantakan//

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan KKN

Pengalaman SNMPTN 2018

Narasi Cinta untuk Menulis