Catatan KKN
Artikel ini ditulis pada 14 Februari 2022, sembilan hari setelah penarikan KKN. Dipublikasikan untuk komunitas pribadi, dan sekarang dipublikasikan untuk umum dengan penyuntingan gambar seperlunya.
Aku menulis ini dalam rangka gabut. Ya, karena mau ngerjain
data skripsi tapi masih mentok, dan
mau ngerjain kerjaan juga mikirnya ah
besok aja deh.
Sungai Semurup di Padukuhan Kamal, Kalurahan Wunung.
Situs Watu Dakon di Kalurahan Mulo.
Jalan menuju Padukuhan Soka, Kalurahan Wunung.
Satu unit, Wunung dan Mulo.
Sudah sembilan hari sejak penarikan KKN dan aku masih
merasakan sisa-sisa suasana selama 50 hari di desa antah berantah itu. Mengapa
antah berantah? Karena desa ini, meskipun termasuk di wilayah Kapanewon
Wonosari yang termahsyur di Kabupaten Gunungkidul – teman-temanku sering menyebutnya “Wonsa” – tapi pada kenyataannya, teman-temanku yang asli Wonsa pun
tidak mengenal desa bernama Wunung ini.
Pertama kali aku menginjakkan kaki di desa itu adalah saat
survei pertama bersama DPL. Ya, suasana desa pada umumnya. Hanya saja saat itu
aku masih sulit mengingat jalan, bahkan di survei kedua pun aku gagal mengingat
jalan masuknya. Namun di survei kedua inilah baru kusadari jika suasana di sini sangat luar biasa. Jika orang biasa melihat hamparan sawah dan ladang, diselingi tanaman jati yang berjejer-jejer itu biasa, bagiku tidak. Pemandangan
itu terlalu menakjubkan bagiku yang sudah lama tinggal di kota. Wajar sih, ya?
Ah, tapi betulan. Pemandangan di sini luar biasa – sampe monanges.
Ada pengalaman menarik saat survei kedua ini. Di samping pencarian
dukuh Kamal, pengalaman pertama menyaksikan pemandangan Semurup – sungai yang diapit perbukitan – adalah ketika kami ingin mencari kediaman dukuh Teguhan.
Saat itu kami berhenti di balai padukuhan dan kebetulan ada dua pemuda di sana entah sedang apa, kami menanyakan kediaman Pak Dukuh dan mereka pun menjelaskan. Pertigaan masjid lurus, nanti ada jalan ke kanan. Enggak tahu kenapa, tapi rasanya bingung aja. Sampai akhirnya kami menemukan warung dan bertanya pada pemilik warung mengenai kediaman Pak Dukuh. Oh, ternyata di situ saja, sudah dekat. Setibanya di rumah yang dimaksud, kami bingung, rumahnya yang mana. Tapi kemudian seseorang menegur kami.
“Pak Dukuh kayanya tidak ada, mobilnya tidak di rumah,” tegur seseorang tersebut.
“Oh, ke mana ya, Mas?” tanyaku polos.
“Mari ke rumah saya saja. Kalau mau tanya-tanya biar saya jawab,” sahut beliau.
Batinku, ini siapa.
“Saya kan, lurahnya. Yang kemarin menyambut adik-adik (saat survei pertama).”
Doeng. Astaga. Aku merasa udah nggak sopan banget.
Belum lagi saat survei ketiga. Saat itu kami memang sudah berencana ke rumah Pak Lurah dan kebetulan beliau sudah di rumah, lengkap dengan keluarga kecil beliau. Karena kami belum salat Ashar dan beliau masih ada beberapa hal yang harus disiapkan, akhirnya kami ke masjid dulu. Aku pun berpamitan,
“Mbak, ini kami ke masjid dulu, nggih?”
Mbak ini pun mengiyakan. Kupikir anak perempuan Pak Lurah. Kan ada dua. Eh, tapi kok, jadi tiga? “Eh, ini Ibu ya? Mohon maaf, Bu. Ibu awet muda.”
Dan segala kebingungan perihal jalan itu rasanya menjadi aneh ketika aku sudah sering melewatinya. Enggak semembingungkan itu, loh. Memang mungkin karena sudah terbiasa. Tapi tetap saja, sedikit aneh. Terutama jalan menuju Padukuhan Soka, sebelum sampai di sungai. Jalannya ya jalan cor blok dan cukup rusak. Bahkan teman yang memboncengku pun sampai tanya, “Banku bocor ya?” Padahal enggak. Tapi begitu kami sering melewatinya, bolak-balik, rasanya ya biasa saja. Pemandangan sawah, ladang, dan hutan jati yang menghampar sepanjang jalan menuju sungai menjadi favoritku.
Di Desa Wunung – ada juga subunit yang di Desa Mulo – kami yang perempuan tidur di rumah Pak Lurah, sedangkan yang laki-laki tidur di sebuah rumah gudang yang juga milik Pak Lurah. Rutinitasku selama 50 hari KKN adalah bangun tidur, langsung menuju kamar mandi di bawah. Kadang bangun pagi, kadang kesiangan. Jika tidak ada jadwal mengajar di SD, aku akan mengerjakan tahapan studi literatur atau tidak melakukan apapun sampai kedua temanku mandi. Jika sudah pukul 9 pagi, kami akan ke basecamp, atau pondokanlah, untuk sarapan.
Ah iya, biasanya sebelum jam 9 itu, suka ngecek basecamp dari rumah Pak Lurah: pintunya sudah kebuka atau belum. Kalau belum, berarti yang cowok-cowok ini belum pada bangun.
Malamnya, kami ngumpul di basecamp, ngerjain proker masing-masing atau ngobrol. Atau jika ada kunjungan ke tokoh masyarakat di malam hari. Saat itu kami mengunjungi ketuakarang taruna desa. Karena beliau bisa sebelum jam malam, setengah 8 malam kami buru-buru berangkat. Percakapan yang kami kira hanya akan berlangsung 30 menit itu pun bertahan hingga 3 jam lamanya karena terjebak hujan deras. Aku sudah sangat mengantuk. Tapi tidak lebih mengantuk dibandingkan ketika pertemuan warga di malam pertama kami saat tiba di desa. Atau malam hari kami habiskan bersama Pak Lurah, jika Pak Lurah mengajak kami makan malam seperti saat malam tahun baru, ketika anaknya yang paling kecil berulang tahun, dan di malam-malam terakhir kami sebelum kembali ke kampus.
Jika yang lain mengharapkan 50 hari segera berlalu saat pertama kali menginjakkan kaki di lokasi KKN, bagiku tidak demikian. Jangan terburu-buru. Biarkan saja mengalir, dan nikmati setiap momen yang bergulir. Hargai momen itu, karena barangkali itulah satu-satunya momen yang terjadi dalam hidup kita. Jika momen yang sama terulang, belum tentu akan lebih baik. Dan jangan berekspektasi jika momen ini akan lebih baik, atau sama baiknya dengan momen sebelumnya. Lapangkan dada untuk menerima setiap momen yang berjalan. Karena setiap momen itu unik. Heheh.
Ketika sudah memasuki setengah waktu periode KKN, aku bahkan merasa kurang karena prokerku belum selesai, meskipun alhamdulillah bisa selesai sebelum penarikan.
Banyak pelajaran yang aku terima di KKN ini, terutama pelajaran dalam hidup bermasyarakat. Tentang bagaimana mengolah wawasan yang diterima di bangku perkuliahan untuk disampaikan ke masyarakat, harus menggunakan bahasa yang mudah dicerna masyarakat – terutama masyarakat desa. Itu adalah seni yang belum kukuasai. Pelajaran kehidupan, untuk mensyukuri setiap kesempatan yang kuterima. Terutama kesempatan menempuh pendidikan. Karena di desa, kutemui siswa SD kelas 6 berusia 14-15 tahun. Bukankah dia seharusnya sudah duduk di bangku SMP? Jika sudah demikian, mungkin kesempatannya untuk melanjutkan pendidikan hingga SMA pun lebih kecil, karena tuntutan ekonomi dan sosial untuk bekerja.
Pelajaran kekeluargaan yang kudapat selama tinggal di rumah Pak Lurah, menyaksikan bagaimana Pak Lurah dan Bu Lurah berinteraksi dengan kedua anaknya.
Dan pelajaran bersosialisasi, terutama bersosialisasi dengan teman-teman KKN-ku. Belajar menempatkan diri diantara orang-orang dengan latar belakang yang berbeda, dengan karakter yang berbeda. Belajar untuk bekerja secara profesional – tapi aku gagal. Bekerja dalam tim ini, sedikit banyak memberikan gambaran mengenai bagaimana lingkungan kerja besok. Ya, pasti ada yang bikin kesel, ada yang cuek, tapi tetap ada juga yang baik. Dan yang terpenting, bagaimana mengelola itu semua supaya tidak baperan. Come on. Tidak semua orang sama seperti dirimu. Dan kita adalah tokoh utama di kehidupan kita masing-masing, bukan di kehidupan orang lain.
Dan aku ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-temanku yang sudah membuat semua ini terjadi. Yang sudah membantuku melewati masa-masa insecure karena takut programku tidak terlaksana. Yang sudah menghapus keraguanku dan membuatku percaya bahwa semuanya akan baik baik saja. Everything is going to be alright.
Untuk: Rima yang dewasa, Tiani yang kekanak-kanakan tapi juga beres urusan rumah tangga, Bapak Tobi yang mirip kucing, si manis Pakdhe Lintang, Timi si caretaker, Hafizh Kormanit si anak tetangga, dan Martin yang sopan. Juga teman-teman Mulo yang sering menyemarakkan basecampe kami yang sepi. Tak lupa teman-teman daring yang sering membantu kami di bidang logistik, heheheh. I cherish every moment I spent with you.
Sempat nyesel kenapa dulu nggak ikut Periode 2 – padahal online. Ya, dengan cerita KKN-ku yang sebenarnya biasa saja, tapi bermakna buatku pribadi, nggak jadi nyesel deh. Nggak nyesel ikut Periode 4, nggak nyesel plotting di K1, nggak nyesel dapet lokasi di Wunung yang antah berantah tapi mesmerizing banget, nggak nyesel ikut survei – walaupun ada momen sengak yang bikin mental breakdance, nggak nyesel satu unit dengan mereka – yang awalnya sebenernya kaya apa banget sih, nggak nyesel ikut yang offline, nggak nyesel bisa menghabiskan waktu bareng kalian.
It was ok if you find it clueless, because this is our very first KKN
Komentar
Posting Komentar